Translate

Rabu, 24 Februari 2016

Berita Muslim - Sukses adalah Hak Semua orang, Demi Maza, Jagalah Lima Keadaan, Sebelum datang Lima - AzharyUnix.Com

Apa yang harganya mahal selain emas, intan permata ?
Investasi apa yang susah dinilai selain tanah, emas atau saham ?

Ya, mungkin WAKTU-lah jawabannya. Mungkin karena waktu tidak ada yang jual (walau gratis sebenarnya), mungkin waktu tidak akan pernah bisa kembali (walau Dia senantiasa tersedia dan setia menemani kita). Waktu memang unik, orang yang sibuk merasa waktu sangat terbatas, sementara seorang penganggur sampai bingung harus dengan apa untuk menghabiskan waktu.
Bagaimanakah menjadi orang yang sukses? Sukses yang dimaksud di sini bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga bisa menyelamatkan orang lain. Sukses inilah yang selamat dari kerugian di dunia dan akhirat. 



Simak tafsir surat Al ‘Ashr berikut.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Mitra Muslim - Banyak ungkapan, “wah waktu tidak berpihak kepada kita,” padahal waktu bukan seorang juri yang punya kecenderungan subyektif memihak salah satu pihak, waktu itu netral. Bukan waktu yang tidak memihak tapi yang sesungguhnya sering terjadi adalah waktu menjadi kambing hitam akan kesalahan atau kelemahan Kita dalam memanfaatkan waktu dengan optimal. Karena waktu selalu tersedia dan gratis maka kecenderungan secara psikologis banyak orang terlena untuk tidak memanfaatkannya dengan optimal, sehingga tatkala gagal menghampiri munculah sang kambing hitam waktu.

Demi Masa
Allah bersumpah dengan al ‘ashr, yang dimaksud adalah waktu atau umur. Karena umur inilah nikmat besar yang diberikan kepada manusia. Umur ini yang digunakan untuk beribadah kepada Allah. Karena sebab umur, manusia menjadi mulia dan jika Allah menetapkan, ia akan masuk surga.

Manusia Benar-Benar dalam Kerugian
Manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian di sini adalah lawan dari keberuntungan. Kerugian sendiri ada dua macam kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah.
Yang pertama, kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat. Ia luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim.
Yang kedua, kerugian dari sebagian sisi, bukan yang lainnya. Allah mengglobalkan kerugian pada setiap manusia kecuali yang punya empat sifat: (1) iman, (2) beramal sholeh, (3) saling menasehati dalam kebenaran, (4) saling menasehati dalam kesabaran.

Kadang Kita mendengar, mencoba bermain-main dengan waktu, padahal sesungguhnya waktu tidak suka “bermain-main”, “Dia” akan meninggalkan siapa saja yang tidak serius (bermain-main) dengannya tanpa pandang bulu dan banyak pertimbangan, karena waktu tidak akan berhenti dan kembali walau sedetik “Dia” akan terus melaju.

Hal lain kadang terucap, “biarlah sang waktu yang akan merubah,” ungkapan ini terkesan “bernada pasrah,” padahal tanpa upaya dari diri sendiri yang maksimal, hingga kiamatpun sang waktu tetap tidak akan memberikan perubahan apa-apa pada diri kita, bisa saja terjadi perubahan tapi perubahan ke arah yang lebih jelek, jika tetap tidak memanfaatkan waktu dengan optimal dengan berupaya keras mengupgrade diri dalam semua sisi.

Sebuah pepatah mengatakan waktu adalah uang,” kalau begitu orang yang super sibuk boleh saja mengatakan Saya tidak punya “uang” untuk mengganti ucapan “saya tidak punya waktu?” Tanpa pemahaman yang komprehensif seberapapun waktu yang dihabiskan tentu tidak akan linier dengan uang yang dihasilkan. Coba saja kita amati ada orang yang menghabiskan waktu banyak untuk bekerja tapi uang yang didapat tidak lebih banyak dibandingkan dengan yang menghabiskan waktu untuk bekerja lebih sedikit. Tentu ada prasyarat untuk pepatah tersebut, yaitu dengan cara apa kita menghabiskan waktu (walau waktu tidak akan pernah habis) apakah hanya sekedar dengan kerja keras saja atau disertai juga dengan kerja cerdas, tuntas dan ikhlas.

Dalam beberapa kondisi kadang terucap “wah waktu sudah habis,” Padahal waktu tidak akan pernah habis. “Habis” hanya pada saat episode tertentu saja, tapi tetap akan tersedia terus dalam episode-episode selanjutnya selama Kita mau berjuang kembali, berupaya kembali dengan semangat pantang menyerah.

Suatu saat kita bicara “pada waktu itu beda dengan pada waktu sekarang sehingga bla…bla..bla,” (yang negatif-negatif pokoknya), Kembali waktu jadi kambing hitam. Waktu selalu sama. Jika Kita bisa beradaptasi dengan Waktu, maka Sang waktu akan tetap sama. Hanya orang yang susah atau bahkan tidak mau beradaptasilah yang akan kembali menyalahkan sang waktu dan siap-siaplah menjadi dinosaurus yang akan punah, bukankah tidak yang terkuat yang akan bertahan melainkan yang bisa beradaptasilah yang akan bertahan.

Dalam kondisi terdesak meluncur perkataan “Waduh Kita sudah habis ditelan waktu,” Waktu bukanlah species hewan predator buas yang gemar “menelan” mangsanya, sebaliknya kitalah yang sering “menelan” waktu dengan sia-sia tanpa melakukan hal-hal yang positif dan produktif, sehingga ketika kegagalan datang, Kita menjadi tidak bersahabat kepada waktu, seakan-akan Waktu adalah hewan buas yang gemar menelan.
Karena waktu memang bukanlah sejenis kambing berwarna hitam maka tidak layak waktu dikambing hitamkan, apalagi lupa waktu sehingga lupa diri untuk menyadari bahwa sesungguhnya waktu itu lebih berharga dari benda atau investasi apapun. Maka investasi waktu pada bulan puasa, pasca lebaran dan waktu-waktu ke depan seterusnya terkait bisnis Wira Usaha Apapun tetap bisa dijalankan dengan menyesuaikan Situasi dan kondisi. Memprospek, Mengembangkan Usaha, membina jaringan, Mencari Solusi Usaha Jitu, diskusi dengan jaringan, selling (baik on line maupun off line), memperdalam pengetahuan bisnis, membuat alat bantu bisnis, berlatih presentasi, dll.

1- Mereka yang Memiliki Iman
Yang dimaksud dengan orang yang selamat dari kerugian yang pertama adalah yang memiliki iman. Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perintah beriman kepada Allah dan beriman kepada-Nya tidak diperoleh kecuali dengan ilmu. Iman itu diperoleh dari ilmu.
Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata bahwa iman di dalamnya harus terdapat perkataan, amalan dan keyakinan. Keyakinan (i’tiqod) inilah ilmu. Karena ilmu berasal dari hati dan akal. Jadi orang yang berilmu jelas selamat dari kerugian.

2- Mereka yang Beramal Sholeh
Yang dimaksud di sini adalah yang melakukan seluruh kebaikan yang lahir maupun yang batin, yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunnah.

3- Mereka yang Saling Menasehati dalam Kebenaran
Yang dimaksud adalah saling menasehati dalam dua hal yang disebutkan sebelumnya. Mereka saling menasehati, memotivasi, dan mendorong untuk beriman dan melakukan amalan sholeh.

4- Mereka yang Saling Menasehati dalam Kesabaran
Yaitu saling menasehati untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat, juga sabar dalam menghadapi takdir Allah yang dirasa menyakitkan. Karena sabar itu ada tiga macam: (1) sabar dalam melakukan ketaatan, (2) sabar dalam menjauhi maksiat, (3) sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyenangkan atau menyakitkan.

Sukses pada Diri dan Orang Lain
Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Dua hal yang pertama (iman dan amal sholeh) untuk menyempurnakan diri manusia. Sedangkan dua hal berikutnya untuk menyempurnakan orang lain. Seorang manusia menggapai kesempurnaan jika melakukan empat hal ini. Itulah manusia yang dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keberuntungan yang besar.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 934).

Sudah Mencukupi dengan Surat Al ‘Ashr
Seandainya Allah menjadikan hujjah hanya dengan surat Al ‘Ashr ini, maka itu sudah menjadikan hujjah kuat pada manusia. Jadi manusia semuanya berada dalam kerugian kecuali yang memiliki empat sifat: (1) berilmu, (2) beramal sholeh, (3) berdakwah, dan (4) bersabar.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

هذه السورة لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هي لكفتهم

“Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka.” Sebagaimana hal ini dinukil oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tsalatsatul Ushul.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sukses dan selamat dari kerugian dunia lan akhirat.

Kita bisa mengisi dan menorehkan banyak hal positif yang produktif atau sebaliknya pada sang waktu. Hidup (waktu) terlalu singkat untuk bersantai-santai, terlalu indah untuk merasa jenuh, dan terlalu istimewa untuk disia-siakan. Jatah Hidup Setiap Mahkluk Hidup termasuk Manusia sama 24 jam Sehari, Jika SAWAH (SAat WAktu Hidup) KITA kerjakan dengan baik maka tentu akan memberikan “panen” yang baik juga …..SEMANGAT PAGI !....NEVER GIVE UP!....

Referensi:
Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H.
Naskah Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dengan sanad dari guru kami, Syaikh Sholeh bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi

Syarh Tsalatsatul Ushul, Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H.

SEMOGA BERMANFAAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Favorit