Translate

Jumat, 26 Februari 2016

Mitra Muslim - MENGENAL ALLOH SWT Puncak Kesadaran yang Tentukan Jalan Hidup Kita sebagai Manusia - ShafiqUnix.Com



Sahabat Muslim - Mengenal Allah pada dasarnya bukanlah mengenal zat Allah, karena hal ini mungkin tidak bisa dijangkau oleh manusia. Mengenal Allah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun mengenal Allah seharusnya dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan kita lebih dekat dengan-Nya. Kita bisa mengenali Allah dengan cara mengenali asma Allah, sifat Allah, dan perbuatan Allah yang terlihat dalam ciptaan-Nya yang ada di dunia ini.

Kita mengetahui bahwa mengenal Allah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup kita sebagai manusia. Karena dengan mengenal Allah, akan menjelaskan hakikat tujuan hidup kita sebagai manusia ataupun hakikat diri kita sebagai makhluk-Nya.

Mengenal Allah merupakan landasan perjalanan spiritual secara keseluruhan. Karena ketika telah mengenal Allah, maka kitapun akan merasakan kehidupan yang lapang, hidup dalam rentang panjang dengan bersabar dan bersyukur, serta akan selalu berusaha, bekerja, dan beribadah bukan sekedar untuk memuaskan keinginan, kebutuhan atau nafsu semata, namun semata-mata untuk mendapatkan Ridha Allah.

Seperti halnya seseorang yang sedang jatuh cinta, seperti itu juga ketika seseorang mengenal Allah. Seseorang yang sedang jatuh cinta, akan selalu memikirkan kebaikan, perhatian, ataupun keramahan kekasihnya. Memikirkan hal-hal seperti itu saja sudah membahagiakan hatinya. Ia pun akan selalu menjaga jangan sampai kekasihnya benci dan menjauhi dirinya. Oleh karena itu ia akan selalu tampil baik, sopan, ramah, dan murah hati di depan kekasihnya. Dan kalaupun memiliki sifat buruk, maka dihadapan kekasihnya akan berusaha untuk menghilangkan sifat buruk tersebut. Orang yang sedang jatuh cinta, biasanya akan selalu berusaha untuk menyelami sifat ataupun hobi dari sang kekasih dan sebisa mungkin untuk mendekatkan diri dengan sifat dan hobi kekasihnya.

Seperti itulah seharusnya orang yang mengaku mencintai dan mengenal Allah. Ketika kita sudah berkomitmen untuk mencintai dan mengenal Allah, maka kitapun harus siap dan bahkan mengorbankan segalanya hanya untuk memperoleh Ridha Allah. Satu hal yang penting adalah ketika kita mencintai dan mengenal Allah semestinya melahirkan rasa cinta dan ketergantungan hanya kepada Allah bukan hanya bergantung kepada manusia atau makhluk lainnya. Karena segala sesuatu baik itu Ibu, ayah, harta, anak, suami, istri, keluarga, kerabat, tetangga, dan sahabat, semua itu datang dari Allah, dan semuanyapun akan kembali kepada Allah. Lantas, masihkah kita mau menggantungkan diri kita kepada selain Allah????

Wallahu a’lam bishawab..
                                                                                                  *Olah Rasa Tentang Tuhan


http://sriapriyantihusain.blogspot.co.id/2014/12/mengenal-allah.html

Muslim - HAKEKAT KEHIDUPAN DAN KEMATIAN - NaufalUnix.Com

Dalam hidup, manusia akan diuji di titik yang memang membutuhkan sebuah perubahan. Allah akan memberikan ujian sebagai wasilah untuk memperbaiki diri kita. Dengan ujian, Allah memberi kesempatan untuk menghilangkan titik-titik kelemahan yang masih melekat pada diri kita. Dengan harapan bahwa kelemahan-kelemahan itu tak lagi menjadi noda-noda yang memburamkan potret diri kita sebagai hamba di hadapan Allah.


Mitra Muslim - Maka ketika ujian datang menyapa, maka jalan satu-satunya adalah bertawakkal hanya kepada-Nya, ikhlas menjalaninya dan sabar dalam menghadapinya. Karena segala sesuatu yang ada di dunia ini pada dasarnya sudah ada yang mengatur. Begitupun ketika kita diperhadapkan dengan ujian kematian baik itu kehilangan orangtua, anak, keluarga, ataupun kerabat.

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.....
Mungkin kalimat itulah yang tepat untuk mendeskripsikan akhir dari perjalanan hidup manusia di dunia. Kehidupan manusia di dunia ini hanya sebuah cobaan, sebuah ujian, sebuah perjuangan, dan kehidupan ini hanya sebuah kefanaan. Fana? Ya.. Fana karena kehidupan di dunia hanya sementara dan pasti akan bermuara. Karena ada kehidupan lain yang lebih kekal yaitu kehidupan setelah kematian, kehidupan di akhirat.

Sebagai renungan untuk diri kita bahwa Kematian seseorang tidak bergantung pada seberapa siap kita untuk menghadapinya, seberapa siap diri ini bertemu dengan-Nya, seberapa banyak amal ibadah yang telah kita laksanakan, dan seberapa besar amal Soleh yang telah kita perbuat.

Namun sudah siapkah kita untuk menghadapinya? sudah siapkah kita bertemu dengan-Nya? Sudah seberapa banyak amal ibadah yang telah kita laksanakan? Seberapa besarkah amal Sholeh yang telah kita perbuat? Apakah diri ini sudah layak untuk bertemu dengan-Nya? Dan Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kita tunduk kepada-Nya?

Segala sesuatu yang berasal dari Allah maka akan kembali kepada-Nya. Kepergiannya akan menjadi pelajaran bahwa kita tak akan pernah tahu kapan ajal akan menjemput. Namun kita bisa mempersiapkan pertemuan dengan-Nya dengan cara terindah dan tentunya dengan jalan yang diRidhai-Nya.

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rodji’un..


http://sriapriyantihusain.blogspot.co.id/2014/12/kehidupan-dan-kematian.html

Muslim - Hakikat dan Rahasia Dibalik Ujian Allah SWT - AzharyUnix.Com

Mitra Muslim - Ujian adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Sebagai pribadi biasa atau pribadi yang bertitelkan aktivis dakwah yang hidupnya penuh warna, ujian pasti datang menghampiri dan turut memberi warna dalam salah satu atau bahkan sebagian besar fragmen kehidupan kita. Ujian akan selalu datang, datang dan datang jika kita telah mengaku beriman. Tak hanya sekali.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan kami telah beriman dan tidak akan diuji..? dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta ” 
(QS. Al Ankabut : 3)

Dari ayat tersebut, bolehlah dikatakan jika ujian adalah sebuah alat evaluasi. Alat evaluasi yang dipergunakan oleh Allah untuk menguji kelayakan dan komitmen seorang hamba jika ia telah mengaku beriman. Untuk menguji apakah seorang hamba “layak” untuk naik ke level keimanan yang lebih tinggi. Untuk menguji apakah seorang hamba benar- benar beriman sepenuh hati. Atau jangan –jangan ikrar Syahadatain yang telah diucapkannya hanya menjadi Lip Servicebelaka. Sebab setiap yang diucapkan membutuhkan pembuktian.

Ada satu hal yang menarik pada salah satu tulisan Syaikhut tarbiyyah Ust. Rahmat Abdullah mengenai ujian. Beliau mengatakan “Engkau akan diuji pada titik terlemah yang engkau miliki”. Kita sering sadar jika datangnya ujian Allah itu sesuatu yang lumrah. Tapi yang mungkin jarang kita sadari bahwa Allah itu akan menguji pada titik terlemah yang kita miliki. Kita kan diuji pada titik dimana kapasitas dan kualitas diri kita dianggap Allah masih kurang dan membutuhkan peningkatan. Kita akan diuji pada kelemahan yang harus dihilangkan.

Jika titik kelemahan kita ada pada rendahnya tingkat pengendalian emosi maka Allah tidak akan menguji kita berkaitan dengan kelemahan menjaga batas-batas hubungan dengan lawan jenis. Kita kan lebih sering dipertemukan dengan orang-orang yang bawaannya selalu memancing emosi. Kita akan sering dipertemukan dengan orang-orang yang berseberangan sudut pandang dan pola pikirnya dengan kita. Yang Setiap kali bertemu pasti menyulut pertengkaran. Allah akan makin menambah persoalan-persoalan pelik yang mungkin bisa meledakkan emosi kita. Ujian–ujian itu tidak akan berhenti sampai Allah memandang kita mampu memenej emosi kita. Dan selama kita belum bisa menghadapi dan mengatasi semua itu, ujian tersebut akan terus datang.

Begitu juga jika kita adalah pribadi yang mudah tergoda kemilaunya harta dunia. Maka, ujian yang datang juga tidak akan berupa hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana cara mengendalikan emosi atau menahan godaan dari lawan jenis. Bisa dipastikan Allah akan membuka lebar-lebar kesempatan bagi kita untuk mengelola anggaran keuangan. Allah akan makin memperlihatkan fasilitas- fasilitas duniawi yang mengoda untuk kita kejar. Allah ingin mengetahui apakah kita sudah amanah dan qona’ah ataukah sebaliknya.

Demikianlah, Sebagaimana yang disampaikan Ust. Rahmat Abdullah, kita memang akan diuji di titik yang memang membutuhkan perubahan. Allah akan memberikan ujian sebagai washilah untuk memperbaiki diri. Dengan ujian, Allah memberi kesempatan untuk menghilangkan titik-titik kelemahan yang masih melekat pada diri kita. Dengan harapan bahwa kelemahan-kelemahan itu tak lagi menjadi noda-noda yang memburamkan potret diri kita sebagai hamba di hadapan Allah. Dengan ujian kiranya seorang hamba bisa berubah kian hari kian bertambah ketaatan padaNya. Maka, jika seorang hamba makin bertambah keimanan dan ketaatan pada Nya secara otomatis akan meningkat pula posisi levelnya di sisi Allah. [Kembang Pelangi]


http://www.bersamadakwah.com/2013/04/hakikat-dan-rahasia-ujian-allah.html

Muslim - CERMIN HATI DALAM KEHIDUPAN - ShafiqUnix.Com

“Al mukminu mir’atu akhihi”
...Seorang mukmin adalah cermin bagi Saudaranya… 

(HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Mitra Muslim - Adakah di antara antum yang pernah merasa menyesal telah mengenal seseorang? Menyesal bahwa seseorang pernah hadir dalam kehidupan antum. Semoga tidak pernah.

Jika boleh berbagi pengalaman, yang saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya. Bertemu, berkenalan, dan menjalin hubungan dengan banyak orang. Yang seandainya jumlahnya seratus. Maka, akan ada seratus kombinasi perilaku dan karakter yang akan kita hadapi. Jika jumlahnya naik berlipat menjadi seribu maka kombinasi perilaku dan karakternya pun turut merangkak naik. Kemudian, efek selanjutnya yang muncul adalah peluang timbulnya konflik dan gesekan pun makin terbuka lebar. Gesekan, tumbukan atau bahkan hantaman yang memicu keretakan adalah hal yang lumrah, sangat lumrah. Yang akan menjadikannya tidak lumrah adalah cara kita memandang masalah. Cara kita memandang dengan siapa bermasalah. Dan tentu, cara kita menyelesaikan masalah.

Pernah ada sebuah nama yang saya kenal. Kami saling akrab sebab diwashilahi oleh kebaikan. Bersama dengan berlalunya waktu kami saling dekat. Saling memperhatikan. Saling menasehati dan mengingatkan dalam kebaikan. Saling membantu dan meringankan beban. Bukan tidak pernah ada kesalahpahaman, pastinya ada. Dengan cara yang baik, semuanya pun terselesaikan. Selayaknya sebuah kurva pastinya ada titik puncak. Puncak keakraban dan puncak ketegangan. Dan suatu ketika, datang juga masa bagi puncak kurva yang kedua. Pyyaaaaaarrr… hancurlah salah satu kaca kebaikan tempat saya biasa bercermin. Seketika dunia saya serasa runtuh. Rasa kepercayaan yang sekian lama dibina musnah begitu saja. Rasa sesal pun muncul... jika saja saya tidak pernah mengenalnya. Astaghfirullah... ukhuwah kami hancur, sayapun jadi futur. 

Tiba- tiba diantara jeda waktu yang ada, saya pun teringat apa yang sudah saya baca di bukuDalam Dekapan Ukhuwah tulisan Salim A. Fillah.
Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa

Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran

Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali: “jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”.

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja menjadi kepompong dan menyendiri.
Berdiri malam-malam, bersujud dalam dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hingga tiba waktunya menjadi kupu kupu yang terbang menari
Melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi dengan persaudaraan suci, sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji..

Saat membaca rangkaian kata beliau di atas, dada saya pun tergetar. Tanpa sadar, sudah ada khilaf yang telah saya lakukan. Sebab sebuah masalah, putus tali persaudaraan. Dan itu sangat bertolak belakang dengan yang diajarkan. Meski, ada egoisme dan kesombongan hati yang harus dikalahkan. Saya rasa demi cinta dan keridhaan yang Maha Tinggi. Keikhlasan hati dalam memaafkan harus tetap diupayakan.
Maka di atas itu semua, jika diizinkan saya memberi garis bawah. Karena setiap orang yang datang silih berganti dalam kehidupan kita, semuanya istimewa. Semuanya adalah cermin. Semuanya adalah guru bagi kita, karena dari merekalah kita turut belajar tentang ilmu kehidupan. Dan begitupun, saya berusaha meyakinkan hati dan diri saya. Bahwa tidak pernah ada penyesalan. [
Kembang Pelangi]

http://www.bersamadakwah.com/2013/03/cermin-hati.html

Muslim - Sahabat, Apa Artinya Ilmu Tanpa Amal - NaufalUnix.Com

There is difference between KNOWING the path and WALKING the path
[Morpheus – The Matrix Revolution]

Berbeda. Jelas berbeda. Kutipan di atas saya dapati saat menekuri lembar pertama bukuThe Secret of Heaven karangan ustadz Herry Nurdi. Buku yang cerdas dan menggerakkan, begitu ujar Helvy Tiana Rosa dalamendorsementnya. Benarlah… serasa mendapat tamparan penyadaran saat membaca tiap lembarnya. Dan menggerakkan jemari ini untuk berbagi ide cerdas beliau.
Ada perbedaan antara orang yang hanya sekedar tahu sebuah “jalan” dengan orang yang sepenuh perjuangan menapaki “jalan” tersebut. Ternyata… mengetahui saja tidak cukup tapi jauh lebih baik jika merealisasikan apa yang kita tahu. Kita tahu shalat sunnah sebelum Shubuh itu fadhilahnya lebih utama dari pada dunia dan seisinya. Tapi lebih utama lagi jika kita istiqomah mengamalkannya. Kita sering mendengar shalat berjamaah itu lebih tinggi derajat dan pahalanya dari shalat sendirian. Tapi akan lebih indah lagi jika langkah tergesa kita ke masjid demi mengejar shalat jamaah yang lebih sering terdengar. Kita tahu jalan dakwah itu kewajiban yang indah. Tapi lebih berkah jika kita turut bergerak di dalamnya. Itulah kelemahan kita, sering berilmu tapi belum maksimal dalam beramal.

Dalam bukunya, ustadz Herry Nurdi menyebutkan, di dunia ini tak sedikit orang yang berpengetahuan. Namun, apakah dunia jadi lebih baik hanya dengan itu. Dunia akan berubah ketika mereka melakukan sesuatu yang baik berdasarkan pengetahuan yang mereka punya. Sebagaimana Hasan Al Banna pun pernah mengatakan hal yang serupa. “Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia. Hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dan dari sedikit yang sadar itu, hanya sedikit yang ber-Islam. Dari mereka yang ber-Islam jauh lebih sedikit lagi yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah, jauh lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari mereka yang berjuang, jauh sedikit lagi yang mau bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja yang sampai pada akhir perjalanan ”.

Kita tentu tak asing lagi dengan firman Nya berikut ini

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. 3:104)

Allah sudah menyebutkan akan termasuk golongan yang beruntung bagi orang- orang yang menyeru dan berdakwah di jalan Nya. Kita tahu Allah Maha Benar, janji-Nya adalah sebuah kepastian. Jika Allah katakan beruntung, pasti akan beruntung. Tapi tidak semua dari kita mau dan sudah bergabung menjadi bagian dari barisan orang–orang beruntung sebagaimana yang disebutkan-Nya tersebut. Jika masih ada yang ragu–ragu untuk merealisasikan niat baiknya untuk bergabung dalam dakwah, Allah memiliki ayat yang lain untuk makin memantapkan hati.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)


Menjadi bagian dari dakwah tentulah bukan hal yang mudah. Ujian, cobaan, cacian, hinaan, dan godaan untuk tidak istiqomah datang sepanjang waktu. Menguji hampir setiap hari dan setiap kali. Rasa takut pasti pernah mereka alami. Maka bagi orang–orang beruntung yang telah memilih menjadi bagian dari dakwah, meraka punya senjata ampuh untuk meneguhkan hati dan membangkitkan kembali semangat mereka. Motivasi dari Rabb-nya tercinta.

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman ” (QS. Ali Imron 139)

Berbahagialah bagi jiwa-jiwa yang telah memilih menafkahkan diri, harta dan jiwanya pada dakwah demi tegaknya kembali Izzah Islam wal muslimin. Apapun harakahnya apapun manhajnya dengan Al Qur’an dan Sunnah landasan bergeraknya. Bagi merekalah kemenangan yang agung.

"(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (QS As Shaff 11-13)

Saat tulisan ini selesai terbaca, tentulah kita telah menjadi tahu. Tapi apakah selanjutnya, kita akan menjadi mau…?. Terserah padamu…
Ini Negara Bebas…setiap orang berhak untuk membuat pilihan.
[Alangkah Lucunya Negeri Ini---The Movie]
Wallahu a'lam bish shawab. [Kembang Pelangi]
http://www.bersamadakwah.com/2013/07/apa-artinya-ilmu-tanpa-amal.html

Muslim - Membangun Tangga-Tangga Menuju Surga - ShafiqUnix.Com

Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridaiNya
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
dan masuklah ke dalam surgaKu
(Al Fajr 27-30)

Mitra Muslim - Kudengar ayat itu dari murobbiyah pertamaku di waktu SMP. Seorang mahasiswi tingkat pertama yang rajin sekali berbagi di hadapanku pada hari Jum’at. Pembawaannya yang ceria dan suka bercerita membuatku jatuh cinta padanya. Kefasihannya dalam membaca Al Qur’an adalah sumber kerinduan untuk berjumpa dengannya. 


Dialah yang mengajakku untuk menunaikan dua ibadah sunnah yang utama, Dhuha dan Tahajjud. Dialah yang mengingatkanku tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Dialah yang tak malu-malu menasihatiku untuk tidak berpacaran. Dialah yang menuntunku untuk menjauhi hal-hal yang meragukan.

Seluruh ajakan, pengingatan, nasihat, dan tuntunan yang telah dia berikan membuatku mengerti tugasku yang sebenarnya di dunia ini. Tugas yang telah melekat sejak dulu hingga kelak aku menghadapNya: menjadi hamba Allah yang berjiwa tenang. Sungguh, tangga-tangga menuju surga itu telah kubangun melalui lisan dan perilakunya!

Ternyata, pembangunan tangga-tangga menuju surga tak berhenti. Terus berlanjut hingga aku berada di SMA. Murobbiyahku berganti. Dia amat berbeda dengan murobbiyahku yang dulu. Lebih tegas, namun tetap lembut. Lagi-lagi, kefasihannya dalam membaca Alquran membuatku kagum. Kehadirannya dalam pertemuan pekanan nyaris tak pernah tergantikan. Padahal, dia juga seorang aktivis dakwah kampus yang padat dengan berbagai kesibukan dan agenda. 

Pada sebuah kesempatan, dia mengulas ayat ini:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (at Taubah 24)

Seketika kutersentak. Baru kutahu, ternyata cinta kepada Allah, Rasul, dan Jihad harus didahulukan daripada cinta-cinta yang lain. Alhamdulillah, aku menyadari itu lewat perantaraannya.

Melalui lisannya, dia menyemangatiku untuk mulai berdakwah di jalanNya. Melalui teladannya, dia mengajakku untuk menjadi da’iyah yang profesional dan berwawasan luas. Melalui semangatnya, dia menyeruku untuk teguh menapaki jalan dakwah ini.

Lisannya, teladannya, semangatnya adalah bahan untuk membangun pondasi kecintaanku terhadap jalan dakwah. Hingga saat ini, aku masih mencintai jalan ini dan berusaha untuk teguh menapakinya meski tertatih. Sungguh, tangga-tangga menuju surga itu semakin meninggi lantaran seruanmu kepadaku untuk meninggikan kalimat Ilahi! []

PenulisAyu Novita Pramesti
Depok

http://www.bersamadakwah.com/2013/10/membangun-tangga-tangga-menuju-surga.html

Muslim - Tahukan Sahabat RUH DARI SEBUAH AMAL - NaufalUnix.Com

Amal itu ibarat sebuah jasad sedangkan keikhlasan adalah ruhnya
[Ibnu Atha’illah]

Tak mudah itu bukan berarti tak mungkin. Itu yang saya coba untuk percaya. Dan tanpa henti, saya yakinkan pada hati. Terlampau sering saya beramal tapi kemudian di penghujung setelah sebuah amal dilakukan, saya tiba-tiba menjadi ragu apakah amal yang saya lakukan akan berbuah pahala. Apakah seiring berjalannya waktu, saya akan benar-benar mampu menjaga ikhlasnya niat atas amalan tersebut.

Hati–hati dengan godaan keikhlasan
. Begitulah, taujih yang disampaikan pimpinan kami di ladang dakwah baru ini, tempat bagi kami, para penulis pemula bernaung. Beliau awali pertemuan kali itu dengan kisah seorang mujahid yang tak banyak dikenal dalam sejarah. Bahkan dalam buku shirah yang sering kita baca,hanya satu kali saja namanya disebut. Tak lebih dari itu. Namanya, Tsabit bin Arqam. Beliau ikut berperang, berjihad. Dan menjadi penyelamat bendera kaum muslimin di perang muktah ketika itu. Dan sekali lagi ia tidak banyak dikenal dan tak ingin terkenal. Tapi bukan berarti jasanya dipandang remeh dan tak berarti. Sebab pasti tercatat disisiNya. Begitupun, sebaiknya kami meneladani sahabat tersebut, berazzam sekuat tenaga menata niat dan keikhlasan saat kami berdakwah dengan pena. Terus beramal dan berkontribusi tak peduli dikenal atau tidak.

Bukan berarti itu sebuah bentuk prasangka dan rasa tak percaya. Tapi hakekatnya itu sebagai bentuk cinta beliau pada kami, agar sejak awal kami tak salah langkah. Agar buah karya yang kami tulis sepenuh hati mampu berbuah pahala. Dan atas izin Allah, buah karya kami mampu menuntun pembacanya lebih dekat pada jalan cahaya. Sebab beliau berharap perkataan hikmah dari Al Jahiz berlaku pada kami, “Perhatikanlah wahai para penulis. Jika engkau melakukannya tanpa keikhlasan maka tulisanmu akan menjadi seperti buih yang hilang selayaknya tumbuhan di musim buah yang terbakar oleh angin musim panas”. Yang senada pula dengan Firman Allah,“Adapun buih maka ia akan segera hilang, sedangkan sesuatu yang bermanfaat itu akan tetap di bumi” (QS. Ar Ra’d : 17).

Sekali lagi, tak salah yang beliau sampaikan. Begitulah realitas yang mungkin dialami oleh seorang penulis yang lama apalagi yang masih pemula. Godaan keikhlasan bisa datang kapan saja. Saat merampungkan sebuah tulisan, dipublish kemudian dibaca. Tak berapa lama, muncul komentar positif maupun negatif. Jika yang komentar jenis yang kedua mungkin kita sudah mempersiapkan diri dan waspada. Justru yang bisa jadi bahaya sesungguhnya adalah komentar jenis yang pertama. Pujian lewat FB, mention di Twitter, sms yang menerbangkan ke awang–awang dan bahkan pujian langsung secara lisan di depan mata. Itu semua bakal jadi bibit benalu riya’ yang akan tumbuh subur dalam hati kita. Adalah bijaksana jika kita benar-benar bisa waspada. Sebab jika terjebak riya, musnah dan sia-sia belaka buah karya kami.

Meski, sejatinya kita semua tak 
pernah bisa menghakimi dengan pasti. Apakah amalan yang telah kita lakukan sudah benar-benar ikhlas dan terbebas dari “syirik kecil” alias riya atau sebaliknya. Karena memang keikhlasan itu termasuk salah satu kata sifat yang paling sulit digambarkan wujudnya. Sebagai mana dalam kalimat hikmahnya, Al Juneid berkata “keikhlasan itu rahasia antara Allah dengan seorang hamba. Tidak diketahui malaikat sehingga tak bisa ditulis, tidak diketahui oleh syaitan sehingga tak bisa dirusak oleh syaitan, tidak juga bisa dikenali hawa nafsu sehingga tak bisa disimpangkan olehnya”. 

Keikhlasan tak bisa direkayasa atau dibuat-buat
, ia akan mengalir begitu saja dalam jiwa. Itu pekerjaan yang tak mudah. Bahkan mungkin, lebih dari sekedar sulit. Sebagaimana yang dikutip Al Ghazali dalam karyanya Ihya Ulumuddin, Sahl bin Abdullah ditanya “Apakah hal yang paling berat yang dilakukan oleh jiwa…? “ Beliau menjawab “Keikhlasan, karena jiwa tidak punya bagian untuk mengendalikannya”

Akhir kata, Ikhlas itu tak mudah. Tapi sebagai mana yang saya percaya, bukan berarti itu tak mungkin jika kita benar- benar berupaya. Sebab surga juga tak murah. Butuh mujahadah. Dan, ikhlas tak hanya diperlukan saat menulis saja tapi pada setiap amalan apapun yang hendak kita lukis dalam sejarah usia kita. Karena dengan kekeikhlasan, segala amalan kita serasa lebih bernyawa, lebih punya ruh. Sebagaimana kata- kata hikmah Ibnu Atho’illah dalam karya fenomenalnya, Al Hikam “Amal itu ibarat sebuah jasad sedangkan keikhlasan adalah ruhnya.”

Selamat Bermujahadah. Semoga beroleh surga. [Kembang Pelangi]

http://www.bersamadakwah.com/2013/04/ruh-sebuah-amal.html

Artikel Favorit